Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kritik Terhadap Pemikiran Filsafat Ilmu Pengetahuan



KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

A. REVIEW

Ada orang yang tahu di tahunya orang itu tau dari pengetahuannya, ada pula orang yang tahu di ketidaktahuannya jadi orang itu hanya mengetahui apa yang diketahuinya atau yang dipahaminya dan tidak tahu apa yang diketahui orang lain. Misalnya: Dosen teknik mesin tahu dasar dasar tentang mesin tapi tidak tahu dasar-dasar tentang politik. 

Ada orang yang tidak tahu di tahunya orang itu tahu apa yang diketahuinya. Namun dia kebingungan dan merasa tidak pede untuk memberitahukan pengetahuannya kepada orang lain. Misalnya: Anda tahu tentang teknik mesin tapi dia kebingungan atau tidak pede untuk memberitahukan teknik mesin kepada orang lain. 

Ada orang yang tidak tahu di ketidaktahuannya orang yang tidak tahu sebenarnya dia tidak tahu. Misalnya: Budi mengetahui apa itu politik namun dia membicarakan tentang nuklir. 

Penalaran Nalar merupakan salah satu keunggulan manusia jika dibandingkan dengan binatang. Hasil tersebut yang membuat manusia bisa bertahan dan melestarikan keturunannya sampai saat ini. Manusia adalah satu satunya makhluk yang mengembang kan pengetahuannya secara sungguh sungguh. 

Binatang juga mempunyai pengetahuan. Namun hanya sebatas untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Hakikat Penalaran Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. 

Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang dianggap benar, karena kebenaran sifatnya relatif. Sehubungan suatu kegiatan berpikir maka penalaran memiliki ciri-ciri tertentu: 

1. Ada suatu pola pikir logika 

2. Sifat analitik Intuisi merupakan suatu kegiatan berpikir yang non analitik. 

Penalaran ilmiah merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan induktif. Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran memiliki dasar kebenaran maka harus dilakukan penarikan kesimpulan. Cara penarikan kesimpulan ini disebut dengan logika, logika itu ada 2 yaitu: 

1. Logika Induktif 

2. Logika Deduktif 

Filsafat mempunyai 3 sifat: Menyeluruh: ilmu dalam filsafat itu digabungkan dengan ilmu lain. Ilmu saling berkaitan satu sama lain. Contoh: Matematika melihat ilmu alam dan menghasilkan fisika. Mendasar: mendasari ilmu-ilmu yang ada. Contoh: Apa sih ilmu filsafat itu? Apa kegunaannya? Spekulatif: 

Dalam ilmu wajib menentukan titik awal untuk mencari ilmu pengetahuan. Berani berpikir atau mencetuskan pikir, agar bisa menjadi bahan. 

1. Apakah itu Filsafat? Seorang filsafat ingin mengetahui hakikat dirinya dalam semesta galaksi. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. 

2. Filsafat Peneratas Pengetahuan : Filsafat meminjam pemikiran Will Duran, dapat diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. 

3. Bidang Telaah Filsafat : Dengan dasarnya yang spekulatif, maka dia menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Tahap pertama filsafat mempersoalkan siapakah manusia itu, tahap kedua adalah pertanyaan yang berkisar tentang ada tentang hidup dan eksistensi manusia, tahap ketiga, skenario bermula pada suatu pertemuan ilmiah tingkat “tinggi”, dimana seorang ilmuwan bicara panjang lebar tentang suatu penemuan ilmiah dalam risetnya. 

B. KRITISI

Segala hal yang mungkin bisa dipikirkan oleh manusia. Filsafat berfungsi sebagai pionir yang menanyakan suatu hal dan kemudian jika ditelaah dijawab filsafat akan mempertanyakan hal yang lain lagi. Begitu seterusnya. Jadi filsafat bertanya dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang bersifat kompleks dan Ilmu tidak berguna jika tidak ada ilmu lainnya. 


DASAR DASAR PENGETAHUAN

A. REVIEW

Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival). 

Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Jadi penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. 

Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri pertama ialah adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika. Ciri yang kedua dari penalaran adalah sifat analitik dari proses berpikirnya. Tidak semua kegiatan berpikir mendasarkan diri pada penalaran. 

Di samping itu masih terdapat bentuk lain dalam usaha manusia untuk mendapatkan pengetahuan yakni wahyu. Pengetahuan yang dipergunakan dalam penalaran pada dasarnya sumber pada rasio atau fakta.

B. KRITISI

Manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup ini. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.

Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yaitu: bahasa dalam komunikasi dan kemampuan berpikir dalam suatu alur.Dua kelebihan inilah yang memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya yakni bahasa yang bersifat komunikatif dan pikiran yang mampu menalar.


ONTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI


A. REVIEW


Ontologi. Obyek yang menjadi kajian dalam ontologi adalah realitas yang ada. Dan dalam ontologi adalah studi tentang yang ada yang universal, dengan mencari pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau menjelaskan yang ada dalam setiap bentuknya. 


Dalam ontologi merupakan studi yang terdalam dari setiap hakekat kenyataan seperti dapatkah manusia sungguh-sungguh memilih, apakah ada Tuhan ? apakah nyata dalam hakekat material atau spiritual ? Metafisika merupakan tempat berpijak bagi setiap pemikiran filsafat termasuk pemikiran ilmiah. Beberapa tafsiran Metafisika:


Tafsiran paling utama manusia terhadap alam ini adalah adanya wujud-wujud yang bersifat gaib. Animisme adalah kepercayaan dimana manusia percaya akan adanya makhluk-makhluk gaib di benda-benda seperti batu, pohon, dan air terjun. 


Sebaliknya, paham naturalisme berpendapat bahwa gejala-gejala alam yang terjadi tidak disebabkan olehmakhluk-makhluk gaib melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri, yang dapat kita pelajari dan ketahui. Kaum mekanistik yang melihat gejala alam hanya merupakan metafisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansi dengan proses tertentu.


B. KRITISI


Dengan memiliki asumsi yang berpendapat untuk memiliki suatu kejadian yang terjadi. Maka dari itu pandai-pandai itu mencari peluang yang tepat agar berpendapat sesuai dengan yang diharapkan. Lebih jelasnya sambil mengambil contoh: adanya maling di Mall purwokerto. 


Di TKP peran seorang saksi sangat dibutuhkan untuk menceritakan reka kejadian ulang, dan peran seorang saksi ini yang disebut tokoh Metafisika. Diberikan waktu untuk menjelaskan reka ulang kejadian dan ini sering disebut

peluang oleh para filsuf.



EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR


A. REVIEW


Epistemologi : episto, pengetahuan dan logos, teori pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris, dapat disimpulkan secara singkat cara untuk mendapatkan pengetahuan ketika ingin mengetahui sesuatu, dan akan mencari cara untuk sampai bisa mencari tau dari apa yang kita cari tahu.


Penulis ingin menyampaikan suatu hal melalui jarum sejarah, menurut pemahaman kami, pemahaman pengetahuan tempo dulu selalu berangkap, dikarenakan kriteria kesamaan yang menjadi konsep dasar

dalam prosesnya, tetapi karena seiringnya perkembangan waktu dan perkembangan jaman pengetahuan mulai dibedakan dari proses penguasaan, cara mendapatkan pemahaman, dsb. 


Penulis mengajak untuk mundur kebelakang melihat bahwa pengetahuan bukan lah sesuatu yang instan yang tiba-tiba ada saja dihadapan kita, mau dalam penyampaiannya penulis masih belum memberikan pandangan apa yang dipakai epistemology ini meskipun di bagian kedua akan dijelaskan, namun apa salahnya memberikan pembaca gambaran sedikit. 


Empirisme (pengalaman= hasil dengar, sentuh, cium, lihat). Namun empirisme sendiri memiliki kekurangan: Prasangka dan emosi di dapat merusak pandangan, sehingga kita memilih fakta untuk membantu terlaksananya apa yang kita harapkan dan Alat indera dapat menyesatkan. 


Syarat yang harus dipenuhi agar pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerjanya pikiran, sehingga pengetahuan yang dihasilkan mempunyai karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusun merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. 


Rasionalisme (penalaran) Asumsi yang mendasari Ide prinsip bukan ciptaan pikiran manusia bersifat apriori(pra pengalaman yang didapat lewat penalaran) Fungsi pikiran manusia hanya mengenai prinsip-prinsip Hukum kausalitas  Pengetahuan yang tidak ilmiah


1. Intuisi : pengetahuan yang diperoleh bukan dengan jalan

menyimpulkan secara logis,melainkan dengan jalan kesalehan

2. Wahyu : pengetahuan yang berasal dari tuhan (supranatural)


B. KRITIKAN


Penulis memberikan pemahaman pada bab ini masih bisa diterima dengan proses pemahaman lebih tapi dalam membedakan pengetahuan ilmiah dan tidak ilmiah buku jujun belum dapat menjelaskan nya, dan

belum menemukan kekurangan empirisme, dalam buku ini. 


Namun garis besarnya untuk pemahaman “epistemologi” masih dapat dipahami dengan ketekunan, dibanyaki lagi dan disertai lebih banyak dengan referensi-referensi, agar lebih mudah dipahami.dan saya selaku mahasiswa merasa memahami penyampaian buku jujun tentang bagaimana mendapatkan ilmu sendiri.



AKSIOLOGI: NILAI KEGUNAAN ILMU


A. REVIEW


Secara garis besar aksiologi dalam pengertiannya pemanfaatan unsur penilaian dalam suatu ilmu, apabila dijabarkan, sebagaimana ilmu pengetahuan yang didapat dapat menunjukkan kegunaan dari sudut pandang nilai, nilai yang saya pahami disini yang menentukan apakah ilmu yang kita dapatkan berguna. 


Namun dalam pemaparannya unsur penilaian masih dapat tersaingi dengan konsep moral, artinya dalam hal tertentu ilmu harus memperhatikan nilai-nilai moral dan kebudayaan yang ada dalam masyarakat, agar proses pemahaman kegunaan nilai dapat langsung dirasakan oleh masyarakat.


Setelah membahas proses tanggung jawab nuklir dan pilihan moral, secara pemahaman saya bahwa dalam proses berkeilmuan selalu mendapatkan pemikiran yang kritis untuk menjawab ya atau tidak, tanpa disengaja ilmuwan dituntut untuk memiliki sikap meskipun ada konsekuensi dari penemuannya dan dilarang untuk memutar balikkan fakta. 


Pada bagian ini penulis menyuguhkan pembahasan tentang ilmu dan moral yang saya tangkap dan pahami dalam melakukan proses ilmu dibutuhkan landasan moral karena dapat membuat ilmuan atau pun para pembaca bisa tergelincir dalam pelaksanaannya secara intelektual.


Buku ini baik mengajak pembaca berpikir,dan mempersiapkan segala sesuatu dengan matang, namun yang tidak dapat dihindari akan kenyamanan sisi berpikir, secara moral atau ilmu secara umum. Selanjutnya tanggung jawab sosial ilmuwan, seperti nama nya saja ketika berani membuat sebuah keputusan maka bersiap dengan resiko yang akan terjadi dari dampaknya. 


Ketika belum membuat suatu keputusan,keberadaan pemikiran masih di tempat yang netral,ketika sudah bisa mengambil sebuah keputusan keberadaan pemikiran sudah dalam satu sisi,ya itulah kasra umum maksud dari “tanggung jawab sosial ilmuwan’’bahwa pada dasarnya ilmu netra akan sistem nilai,namun para ilmuwan lah yang memberikan nilai itu.


Jadi harus bertanggung jawab apabila terjadi konflik dari pembahasan nilai itu sendiri Setelah memahami 3 proses, sampai pada proses akhir revolusi genetic, keinginan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, dengan asumsi teknologi dapat membantu manusia, pada kenyataan nya berkata lain dimana manusia membutuhkan pemenuhan teknologi dalam membantu hakikat(tujuan) hidup manusia, malah ilmu (teknologi) lah yang menciptakan tujuan hidup bukan lagi hakekat manusia. 


B. KRITISI 


Yang saya harapkan untuk penulis kedepan masih terdapat banyak kata yang dapat bermakna lebih kami selaku mahasiswa merasa agak kesulitan memahami, apabila saat membaca suatu paragraf terdapat kata yang sama namun beda pemahaman dilihat dari kalimat acuan sebelum nya. Banyakin materi pemahaman dan penjabaran untuk kemudahan mahasiswa yang memiliki basic/ dasar, pemahaman yang mampu atau masih dapat diterima secara logika. 



BAB 7 ILMU DAN KEBUDAYAAN 


A. REVIEW 


Kebudayaan merupakan suatu bentuk pedoman manusia dalam hubungan antar manusia dengan kelompok serta memberikan kemudahan dalam berkehidupan contohnya yaitu pengembangan kebudayaan dapat tercapai melalui pendidikan, pendidikan berperan penting dalam mewujudkan watak suatu bangsa, memberikan pengajaran kepada anak didiknya tentang perkembangan dalam kebudayaan, dan kebudayaan sebagai alat yang memberikan kemudahan dalam berkehidupan. 


Dengan perwujudan kebudayaan diapresiasikan melalui pendidikan dan pendidikan yang memegang peranan penting dalam penetapan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. 


Sedangkan ilmu yaitu suatu pengembangan kebudayaan nasional yang memberikan pola berpikir secara ilmiah yaitu kritis, rasional, logis, obyektif, terbuka, menjunjung kebenaran dan pengabdian universal. Contoh dalam mengembangkan suatu gagasan atau sebuah pemikiran harus dibuktikan melalui hakikat keilmuan dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. 


Maka seorang ilmuwan harus mempunyai langkah-langkah yang sistematis seperti suatu ilmu harus disertai dengan pengembangan di bidang filsafat yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Jadi intinya seorang ilmuwan itu harus memperkuat ilmu yang ia miliki sesuai dengan kefilsafatan sehingga mencapai suatu kebenaran. 


Kemudian dua pola kebudayaan adanya pemisah antara ilmu alam dan ilmu sosial yang tidak diharapkan muncul karena dengan adanya pemisah antara ilmu alam dan ilmu sosial muncul suatu hambatan bagi pengembangan keilmuan di negara kita. Dalam landasannya ilmu alam dan ilmu sosial sama-sama menggunakan pemecahan masalah secara sistematis. 


B. KRITISI 


Dalam sub bab ini menjelaskan bahwa ilmu dan kebudayaan merupakan sesuatu yang tidak dapat terpisah, karena dengan adanya ilmu sebagai suatu cara untuk mewujudkan kebudayaan secara utuh dan sesuai dengan perkembangan zaman dan suatu wujud dimana ilmu itu dapat berkembang karena adanya kebudayaan.Dalam sub bab ini menjelaskan isi dari ilmu dan kebudayaan ini dengan sangat rinci.


Posting Komentar untuk "Kritik Terhadap Pemikiran Filsafat Ilmu Pengetahuan"